Bintang Jatuh

We both are free souls, let's dance..

Read Comments

Hello, Sunshine!

~and 2016 just went like that

I could say that 2016 was the fastest year I was going thru, gile lari sekilo kalah kali cepetnya
Perubahan? Naik 6kg perubahan bukan?
Pencapaian? Go Live-in big project? Rame-rame sih, bukan self achievement
What else? New friends, new places, new thought, new spirit (?) new spirit kaya iklan apa gitu ya

Harapan? Semoga 2017 menjadi tahun gw! Aamiin!

Read Comments

Theoretically Declared

Brainy said..


Dearly Kenny,
Feeling is a concept. You create the concept.
It's not something that happen as it does, it's something happen in purpose, in a way you want it to be, in a way you secretly pray, in a way you whisper it softly, when only your heart can hear, and no ears know.
Feeling is private. It's somebody's business.
Nobody have rights to know, nobody have rights to control, nobody have rights to destroy. Not even him, the one that has the privilege to be the object.
Feeling is something that even ego can not win. It's something that consists of all of the senses. Thing when bravery and power dominate, to make you braver and have the power to stand with your own bare feet.
Feeling is when dignity kills all of the rest, tries to destruct the defence, ruins the concept, breaks the hopes.
While missing is smelling his presence in free air, seeing he laughs in the puddle, hearing his small talk in the noise, and feeling his warm breath in your cheek. Missing is not about missing somebody, but about missing the feeling itself. Feeling that somebody slowly forces you to describe, to create reason, to expect, to put a lil hope. While it shouldn't be actually like that. It's not about what I was trying to long explain before, it's not theory, it's nature. Feeling is to feel. To feel the peanut butter in the bottom of your ice coffee glass.

Read Comments

22:22

...abis meeting
Y: kok tadi lo galak gitu sih ngomongnya sama si Pak X?
N: hah? Masa sih? Aslik deh tadi gw super datar ngomongnya, ga pake emosi sama sekali, sedatar itu loh
Y: mmmmm
N: mmm, berarti lo kurang mengenal gw bro

...tapi kepikiran
N: bro, emang tadi gw kaya marah-marah gitu ya? Gw suka ga enak jadinya
L: ga kok, cuman nyelekit doang
N: haha, kadang gw mikir gw perlu ngubah cara bicara gw ga sih
L: ga lah, kan lo sendiri yang bilang, "you cannot please everybody"
N: mmm iya sih
S: ga perlu!
N: OKAY!

Because people see you in different ways

Read Comments

Told Us The Story

When the white house down, there's no such thing like men wearing suit and tie. The Jakarta city light shouts it clear, but the solar storm says it differently. We make our 578 in my 243, but well happy ending or good farewell is just a fairy tale. Will no explanation be faraway better than a sermon? This "less than and three" grows everyday like a new bud, but the oldy leaves keep on rotting the root like a shadow that betrays its monsieur. Well, I just can't control it like tot can't control his sweetness addiction. This is our third disposition, will it be the last? Or may I say that we will last?
Dear, who's win in the end? "Three six o".

Read Comments

Long Long Road to Read

This following statements may be a sentimental post and contain sensitive subjects, I may delete this post whenever I re-read this post and disagree with my own-present-thought *haha*

Masih jaman ga sih nulis own thought-own thought gini? Well, who cares ketika cuman segelintir orang yang bacain (read: lewatin) blog ini (kecuali nanti nyokap gw yang lagi hobi googling nemu postingan ini, hi Mom!)

I'm 27 years old now. Old? I'm not. May I say I'm 27 years young now? Sure.
Mature? Don't think so.
Late bloomer? You may say I am.
Childish? You better say youthful.
Quarter life crisis? edan! quarter life crisis in late twenties, kemana aja, Kenny? Ga quarter life crisis juga sih, cuman di fase mencari jati diri, cari dimana??

Sebenernya gw lagi di fase di mana gw mulai ngerasa adanya standarisasi yang standard (naon?) terjadi di umur-umur segini. Lulus kuliah-kerja-resign-get a better job-menikah-get master degree-having kids.
Lalu mulai melihat gelagat-gelagat galau kalo apa-apa (read: lulus kuliah-kerja-resign-get a better job-menikah-get master degree-having kids) itu belum kelihatan batang hidungnya.
Gw? mmm.. galau gw cuman kalo liat orang-orang having good days doing travelling, pasang senyum-senyum bahagia, posting quote-quote under their pics di belahan dunia sebelah sana. Well, sementara gw cuman stuck in page one, ga dibalik-balik halamannya haha.
That's why, lately, all I think is having a solo trip, kemana? belum tau. Kapan? belum tau. haha. Ini nih penyakitnya.
Balik lagi ke "lulus kuliah-kerja-resign-get a better job-menikah-get master degree-having kids", temen-temen sekitaran gw, di umur-umur kisaran gw, banyak yang udah khatam line di atas. Tapi yang belum juga ada aja sih.
Biasanya yang belum-belum ini yang lagi gelisah, mau di bawa kemana? mau cari di mana?
Kadang (no offense ya), standarisasi ini lah yang suka bikin orang ketar ketir, masa orang gini gw ga gini, masa orang gitu gw ga gitu, masa orang mandi gw ga mandi. Kadang kalo lagi bener gw juga suka gitu sih, suka ngerasa ditinggalin, suka ngerasa ga sama, karena ga sama itu ga selalu asik.
Ya kadang bokap nyokap gw juga mulai gitu sih, mulai ketar ketir, ini si anak satu ini maunya apa sih? Nyokap sih yang keliatan banget ketar-ketirnya (karena bokap penuh dengan ke-cool-an, cuman suka nyelepet dikit), kadang nyuruh resign, kadang nyuruh sekolah lagi, kadang nyuruh nyari "temen", kadang nyuruh kawin, kadang nyuruh sekolah lagi (ga, ini bukan ga sengaja diulang, karena nyokap emang gitu nyuruhnya), kadang nyokap cape ama gw, kaya "yaudahlah" gitu (haha!).
Karena menurut gw emang "yaudahsih".
Well, talking about resignation, everybody will resign ga sih? It's only the matter of time. Though we are having a good job, good boss, good salary, and good colleagues, pasti akan ada yang namanya "better ones" ga sih? It's only the matter of time, and shot! (ya kan?). 5 years of working, 3 companies. Gw selalu dapet kerjaan yang cukup berat, need me to drink coffee everyday, need me to come home late, need me to work over the weekend (no additional money!), memikul tanggung jawab yang berat (padahal apalah gw cuman remahan rempeyek). Tapi di balik itu, gw selalu dapet bos yang asik (appreciate me and give me their trust, no matter what), salary yang cukup, benefit yang oke, temen-temen yang enak (Alhamdulillah!). Coba, nikmat mana lagi yang harus gw dustakan?
Talking about master degree. I will, I will. Ya Tuhan, tolong mudah kan lah jalan hamba-Mu ini untuk S2 ya Tuhan. Tolonglah buat hamba-Mu ini ga males-malesan nyari sekolah yang mau nerima hamba-Mu ini ya Tuhan. Mohon buatlah celengan ayam Londonku *RIP celengan bebek :( * segera penuh dengan uang seratus ribuan ya Tuhan. Mohon buatlah para pemberi beasiswa itu melirik pada hamba-Mu ini ya Tuhan. Mohon buatlah bahasa inggris hamba-Mu ini bagus seketika ya Tuhan (spesifik!).
Talking about "cari temen". Gw membuka diri kok, transparan abis lah anaknya, ga Ms. Terius, lo mau ajak ke mana gw berangkatin, lo ga rempong alhamdulillah, lo rempong ya rempong sendiri gih, lo asik gw asikin (wakaka!), lo ga asik ya ke laut aja berenang sama ikan pari, gw ga asik, ya maafin ya (curang!). Ya tapi namanya juga hukum alam, pasti si alam ngeseleksi deh. Ga tau syaratnya apa, cuman alam yang tau. Gw cocok, lo ga cocok. Lo cocok, gw ga cocok. Gw ga cocok, lo ga cocok, nah yaudah ke selokan aja, berenang sama kecebong.
Lalu, talking about marriage. Married. Marry young (why it sounds like "meriang"?), I mean getting married in young age, is fine for me. (Bahkan kakak gw waktu 27 anaknya udah dua hahahahhaha).
Menikah muda is fine for me. Menikah agak tua juga gapapa. Kalo gw, maunya nikah sedeng-sedeng aja umurnya, maunya yaa. Tapi ngomongin nikah, menurut gw nikah itu ga bisa ditargetin umur berapa, kan menyangkut banyak hal, dua orang, dua kepala, dua hati, dua keluarga, mental, materi, dan lain-lainnya. Rencana boleh, target? No. (Bokap dulu pernah protes sih gw ngomong gini, but fine). Btw, rencana sama target sama ga sih? hahahha, beda ah.
Abis (no offense ya), temen-temen sekitaran dan seumuran gw yang last of us banget ini, semacam worried too much kalo udah ngomongin masalah jodoh. Gw kalo lagi bener kadang juga gitu sih (Tuhan mana jodohku, Tuhan. Please liatin matanya dulu aja, please). Bokap, nyokap, kakak, nenek, kakek, tante-tante, bude-bude, om-om, pakde-pakde, temen-temen, doanya juga ga jauh dari itu.
Ya menurut gw, selama udah keliatan, selama udah "klik", selama udah siap ya sok disegerakan.
Kalo belum keliatan ya ga usah kesusu, lah wong ga ada (berdoa yang banyak sana sama Tuhan), kalo udah keliatan tapi belum yakin ya diyakinin dulu, jangan "yang ada aja" gitu, jangan menurunkan harkat, derajat, martabat, kesakralan pernikahan cuman karena ga mau ketinggalan, karena didesak keluarga, karena umur, apalagi karena takut ada setan, setan mah di kerangkeng deh beneran kalo lo nya bener. Ya intinya..ga ada sih, sabar aja, Sis.
Eh kok pas ngomongin married tulisannya panjang? Kayanya ini postingan terselubung deh. Haha! Ga kok, tapi kok kayanya lancar amat ya pas ngetik (bisa jadi terselubung di seluk beluk pikiran gw selama ini, banyak gayamu, Ken!).

Ya intinya, apa sih intinya, ga ada sih. Gw suka ga tau apa summary dari tulisan ngalor ngidul gw.
Enak ya ngomong banyak ga ada yang nyela, ga mau baca tinggal skip. The power of nulis blog yang kalo mau baca ya monggo, ga mau baca ya mangga.

Oh intinya gini, ga usah nyama-nyamain lo sama orang lain.
We live our own life. We trace our own path.
Kalo sibuk nyama-nyamain, kalo sibuk ketar-ketir, lo malah ga fokus sama sepatu lo sendiri.
Sematkan self-motivated di tengah-tengah nama lo, it works for me buat ngerasa my small world needs me, for a lil bigger world needs me so soon.

Gitu ya, Ma (kalo Mama baca). Intinya mah, ga ada intinya haha.
Intinya anakmu ini (mungkin) tau dan yakin apa yang semeter ada di depan, doamu yang bantu bangun jalannya.

Gitu ya, Jodohku (mana Tuhan manaaa, haha!).
Intinya, for you, who will bring the taste of my peanut butter back, kalo udah siap, jangan lupa bawain tiket keliling dunia ya, so we can see world a lil bit closer dari mata kita berdua, biar lembarnya bisa balik ke halaman ke dua, jangan lupa bawa gitar ya, so we can sing and dance when everything look so greenish, or when the sky all so blue, or when the leaves are turning red and brownie, or when the lil snowie is falling down. Atau pas hujan juga gapapa, tapi di pinggir-pinggir aja, ya.

Udah panjang, berenang dulu ah. Bye.

*actually, this post is dedicated to Niken in the future, sebelum beliau berubah pikiran*

Read Comments

Invincible

Gw pernah marah ke temen gw karena memantaskan gw atas hal buruk yang terjadi di hidup gw.
Menurut gw, no one ever, ever, deserves bad things happen in their life, even the worst man deserves good things. Kenapa lalu menyudutkan dan mencari justifikasi?

Read Comments

20161129 01:17

Seandainya rumitnya hidup se-simple plot chick lit,
mungkin happy ending
ga cuman untuk
anak kecil

Read Comments

Ruang

Udah adzan subuh, belum tidur.
Kalo dipikir-pikir yah, "beranjak tidur" adalah salah satu hal yang paling gw suka.
I can do anything I want, tapi most of the time sih cuman scroll2 path, instagram, spending time in such a waste. Tapi kadang juga suka gw pake buat mikir, masa depan, masa lalu, masa kini.
Kadang juga bisa gw pake buat ngobrol santai sama Tuhan, ceritain atau nanya sesuatu yang ga bisa gw ceritain atau tanyain ke orang lain. Melegakan.
Malem ini, baca buku sih, sambil pikiran kemana-mana. Loncat-loncat.
Mikir, kenapa kadang nyampein maksud yang tepat itu susah sekali, kadang udah bikin ilustrasi dan alur yang (menurut gw) tepat, tetep aja maksudnya ga nyampe. Udah bikin skenario yang pas, tapi tetep aja artisnya (gw) ga bisa nyampein dengan ekspresi yang tepat, kadang jadi kaya marah, kadang jadi keasinan, kadang kebanyakan micin, dll.
Kadang itu sih yang bikin gw males cerita apa-apa, takut maksudnya ga nyampe dengan presisi. Jadi ya kadang diem aja, leave things unsaid, biar aja orang berekspektasi atau berasumsi. Padahal kan they create their own brokenheart through expectation and assumption ya. Tapi ya brokenheart mah biasa, namanya juga manusia. Makanya jangan ekspektasi, jangan asumsi, dua hal itu kan yang bisa kita kontrol, biar jangan brokenheart. Kalo brokenheart karena hal atau orang lain baru deh mau gimana lagi, kita kan ga bisa kontrol, they have their own thought, they can think anything about us, they have their own mouth, they can talk anything about us. Mereka atau hal-hal itu juga ga punya kewajiban untuk ga bikin kita brokenheart, kan?


Tuhkan loncat-loncat ngomongnya, udah ah udah jam 1/2 5.

Read Comments

Hi 27!

27 again..

Ga tau kenapa 27 selalu jadi angka spesial buat gw..
27 yang selalu bikin hati serrr

Udah sih itu doang, ga tau mau nulis apa.

Read Comments